Selasa, 19 Agustus 2014

Karena aku si sulung, maka aku yang harus memahami

Dilahirkan menjadi sosok anak pertama di keluarga muda, bukanlah perkara mudah.
Bagi saya, anak pertama itu merupakan didikan pertama, yang sangat strict terhadap ilmu parenting, dan segala hal lainnya.
Terkadang, ada beberapa orang tua yang memaksakan karakter anak pertama haruslah yang baik, paling pintar di kelasnya, paling tinggi edukasinya, paling sukses di kantornya.
Maka tak jarang, orang tua akan tela banting tulang demi biaya anak pertama.
Lihat saja fenomena, susu yang paling bagus kualitasnya,walaupun harus merogoh kocek dalam-dalam. Saat, si sulung sudah bisa diberikan MPASI,  maka orang tua akan memberikab kualitas yang terbaik bagi anaknya.
Tak jarang, diberinya anak pertama makanan bergizi,  sehat lima sempurna.
Walaupun,  tak semua orang tua berperilaku yang sama.
Lalu, bagaimana dengan adik-adik nya kelak?
Ada yang perlakuannya berbeda, atau ada yang kontinyu memberikan asupan yang sama, serta menyisipkan karakter yang diinginkan
Tetapi rata-rata,  pola mendidik dan mengasuh anak pertama dengan adik berikut nya berbeda jalannya.
Karena, orang tua sudah meng kakak-an si sulung. Sudah terlanjur menggantungkan harapan kepadanya,
Derita si sulung, kata saya. 
Karena apa-apa,  harus sulung yang pertama-tama. Maklumlah anak pertama dan yang tertua di banding adik-adiknya.
Maka,
Anak pertama pun mengemban amanah keluarga.  siap tidak siap, harus menerima.
Tugasnya sesuai dengan umurnya,makin bertambah umurnya,makin banyak tanggung jawabnya.
Seperti :
Pada saat umur lima tahun,  dan ada adik yang masih balita di bawahnya. Maka sulung harus sigap, membantu ibunya, menuruti permintaan seperti, " kak, tolong ambilkan bedak, dan sebagainya "
Padahal, masa-masa tersebut, anak seharusnya dibebaskan mengeksplor keinginannya,bermain sesuka hatinya.
Kemudian, ketika sudah menginjak sd, maka bebannya pun bertambah lagi, menyiram bunga,menyusun piring ke rak, menyiapkan sepatu Ayah untuk kerja, dan tetek bengek lainnya.
Lain pula, bila sudah SMP. Lebih-lebih tanggung jawabnya, melerai adik yang berkelahi, menaati perintah ibu ,  membereskan rumah padahal di masa yang sama si sulung di tuntut untuk berprestasi di kelasnya.
Itulah sulung,
Proses yang menempanya untuk menjadi dewasa dibanding teman-teman seumurannya.
Mungkin anda tak jarang menemukan, seorang siswa SMA,  tetapi sudah matang pemikirannya.
Proses yang mengajarkannya untuk amanah terhadap tanggung jawabnya, untuk lebih mendengar dan memahami keluh kesah adiknya, untuk lebih berbesar hati saat keinginannya tak di peroleh saat itu juga, untuk yang harus merelakan waktu santainya, demi menjaga adik-adiknya.

Karena itu, bagi rekan-rekan yang telah dilahirkab untuk menjadi si sulung,  sudah seharusnya kita bersyukur kepada Tuhan, Allah semata. Karena, tak semua anak dapat menjadi anak pertama.

Senin, 18 Agustus 2014

Saat aku harus berpamitan

Satu tahun lamanya aku menunggu kepastian, dimana aku akan di tempatkan.
Jatuh bangun aku menyesuaikan, dengan keadaan lingkungan sekitar.
Berdoa siang malam, ku kerahkan segala usahaku demi masa depan.
Kini semua usaha, doa, impian, harapan telah terjawab.
Yang menyisakan haru lagi bahagis yang tak terkira.
Ibuku menangis bahagia, mendengar hasil dari ikhtiarku
Doa nya yang selalu menyertaiku, kini terjawab sudah.
Ayahku kini bisa tersenyum lebar, memberiku pelukan hangat tanda bangga.
Adikku kini bisa menari-nari bahagia, sembari mengucap puja puji kepada yang kuasa.
Aku pun sama, tak ada yang bisa kulakukan selain sujud syukurku kepada Tuhan Allah ta'ala.

Tetapi, dibalik bahagia tentu ada kesedihan didalamnya.
Tiba-tiba aku tersadar, bahwa aku kembali harus merantau melang-lang buana.
Menyisiri inchi demi inchi keindahan dunia.
Aku harus meninggalkan keluargaku, permataku, berlian surga duniaku.
Aku tersentak, sembari bertanya. Sanggupkah aku meninggalkan mereka? Berbatas ribuan mil jarak, hanya untuk sekedar tatap muka.
Sanggupkah aku meninggalkan mereka walau hanya sementara? Meninggalkan ikatan keluarga yang sangat menguras emosi jiwa, kasih sayang, kepedulian, kehangatan, yang tak akan pernah ku temukan hingga ujung dunia. Walaupun kamu menyuguhkan ku, seluruh nikmat dunia.

Aku bisa mati rasanya, bila mengingat itu semua. 
Tetapi, lagi-lagi fakta menamparku dengan durjana,
Aku si sulung pertama, tak ada lagi seharusnya kata cengeng di kamus ku.
Kesuksesan adek-adekku bergantung pada kakak pertama, karena aku masinisnya.
Mau tidak mau, aku harus di tuntut untuk menjadi dewasa, yang paling bijak diantara mereka.
Suka tidak suka, aku tidak boleh lagi bermanja, karena aku sudah harus mandiri,  berdiri di kaki sendiri.
Apalagi umurku sudah mau menginjak 20 tahun, bukan saatnya lagi aku meminta.  tapi ini saatnya aku memberi.

Apapun yang terjadi,  aku harus menghadapi.