Satu tahun lamanya aku menunggu kepastian, dimana aku akan di tempatkan.
Jatuh bangun aku menyesuaikan, dengan keadaan lingkungan sekitar.
Berdoa siang malam, ku kerahkan segala usahaku demi masa depan.
Kini semua usaha, doa, impian, harapan telah terjawab.
Yang menyisakan haru lagi bahagis yang tak terkira.
Ibuku menangis bahagia, mendengar hasil dari ikhtiarku
Doa nya yang selalu menyertaiku, kini terjawab sudah.
Ayahku kini bisa tersenyum lebar, memberiku pelukan hangat tanda bangga.
Adikku kini bisa menari-nari bahagia, sembari mengucap puja puji kepada yang kuasa.
Aku pun sama, tak ada yang bisa kulakukan selain sujud syukurku kepada Tuhan Allah ta'ala.
Tetapi, dibalik bahagia tentu ada kesedihan didalamnya.
Tiba-tiba aku tersadar, bahwa aku kembali harus merantau melang-lang buana.
Menyisiri inchi demi inchi keindahan dunia.
Aku harus meninggalkan keluargaku, permataku, berlian surga duniaku.
Aku tersentak, sembari bertanya. Sanggupkah aku meninggalkan mereka? Berbatas ribuan mil jarak, hanya untuk sekedar tatap muka.
Sanggupkah aku meninggalkan mereka walau hanya sementara? Meninggalkan ikatan keluarga yang sangat menguras emosi jiwa, kasih sayang, kepedulian, kehangatan, yang tak akan pernah ku temukan hingga ujung dunia. Walaupun kamu menyuguhkan ku, seluruh nikmat dunia.
Aku bisa mati rasanya, bila mengingat itu semua.
Tetapi, lagi-lagi fakta menamparku dengan durjana,
Aku si sulung pertama, tak ada lagi seharusnya kata cengeng di kamus ku.
Kesuksesan adek-adekku bergantung pada kakak pertama, karena aku masinisnya.
Mau tidak mau, aku harus di tuntut untuk menjadi dewasa, yang paling bijak diantara mereka.
Suka tidak suka, aku tidak boleh lagi bermanja, karena aku sudah harus mandiri, berdiri di kaki sendiri.
Apalagi umurku sudah mau menginjak 20 tahun, bukan saatnya lagi aku meminta. tapi ini saatnya aku memberi.
Apapun yang terjadi, aku harus menghadapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar